Dalam Ruang

Sesekali, di ruangan yang jarang sekali berdebu itu, pemain musik dari belahan dunia mana saja sukses dipaksa untuk terus bernyanyi. Iya, tidak ada yang berhasil menolak. Meski mereka dalam bentuk digital dan diputar dari laptop, setidaknya itu bisa membuat suasana di dalam ruangan itu seolah-olah banyak penghuninya. Meskipun, di ruangan itu lebih banyak jumlah kekeliruan dan buah pikiran yang kurang ranum.

Dalam satu hari, ponsel pintar pintar di ruangan itu bisa berdering beberapa kali. Tidak semuanya berdering karena penting, beberapa malah dihadiahi umpatan, sedangkan sisanya dianggap biasa saja. Seperti apa-apa yang kamu anggap biasa.

Jarum di jam dinding sudah berputar melewati angka yang sama, dua kali. Bagi sebagian orang itu adalah pertanda, bagi debu-debu itu, adalah sebuah kerugian jika ia tidak lekas mengendap dan mengkonversi alergi menjadi bersin.

Sesekali, bagiku putaran waktu itu adalah pertanda untuk berhenti menyesali apa-apa yang sudah dilakukan. Alih-alih sebagai pemberi tanda untuk lekas menyelami alam bawah sadar, di sisa waktu menuju Subuh, sebagian pribadi kerap dihujani pikiran berlebihan yang sering berbuah menjadi sugesti. Demi apa saja yang bisa ku cium saat itu, sungguh, saat itu ketakutan benar-benar memiliki nama.

Tapi, baru saja pintu diketuk dua kali, ada seruan berkumandang. Sudah dua rakaat?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s